Bupati dan Irigasi

Sudah rahasia umum kalau saya, Anda, dan kita semua adalah anak petani, baik secara full timer ataupun part timer. Tak ada yang bisa menyangkal karena kita lahir diperdesaan dan dibesarkan oleh lingkungan dengan bau tanah dan jeramih, termasuk Bupati dan Calon Bupati. Namun bila ditanya satu per satu diantara kita, Siapa yang mau jadi Petani tunjuk tangan….? Hampir tak ada satupun yang mau tunjuk tangan, termasuk saya yang anak seorang petani full timer yang bapaknya nyambi berdagang di pasar. Dan kembali kita bertanya pada diri sendiri, kalau semua atau sebagian besar dari kita tidak mau jadi petani, lalu siapa yang akan menanam padi untuk mengasih makan saya, Anda, dan para calon bupati ini…? Kita akan bertanya pada diri sendiri, mengapa hal ini bisa terjadi? Saya yakin kita semua sudah tahu jawabannya karena kita semua anak petani. Bertani itu susah, panas, tidak menguntungkan, modalnya mahal, menunggu lama, pas panen harganya murah, dan kalau mau cari pasangan hidup susah, madeso alias masa depan susah….gak janji deh…gua nggak bakalan jadi petani…kata anak muda sekarang…

Ungkapan, perasaan seperti ini hal yang sangat manusiawi, dan sangat normal…malah akan bisa dikatakan tidak normal, kalau hari gene ada anak muda yang mau jadi petani…yang banyak maunya jadi dokter, jadi pilot, jadi tentara…walaupun pemalas dan nilainya pas-pas’an.

Ini adalah akibat dari para pemimpin terdahulu yang durhaka pada ibu pertiwi, lupa kacang sama kulitnya, lupa sama lagu “Den Takana jo Kampuang sangkek den ba suliang-suliang,” lupa saat-saat mereka buat serunai dari batang padi. Seharusnya bupati dan para calon bupati yang akan datang lebih punya perhatian pada sektor yang satu ini “Sektor Pertanian” dan sektor pertanian sangat tergantung pada Sistem Irigasi yang baik.

Sampai saat ini, belum ada seorang bupati pun yang mempunyai Blueprint tentang sistem irigasi di daerah yang dipimpinnya. Kalau pun ada proyek pembangunan waduk, itupun hanya sebatas waduk, dan berhenti sampai di situ, dan itupun tendernya juga menjadi pertanyaan besar??? 

Sudah seharusnya para calon bupati ke depan mulai memperhatikan sektor pertanian ini, kalau tidak mau dikatakan sebagai anak durhaka sama ibu pertiwi. Jadikan sektor pertanian menjadi sektor unggulan di daerah kita. Bangun sistem irigasi yang canggih, sehingga bayangan kalau bertani itu susah perlahan-lahan pupus dari pikiran dan padangan generasi muda. Ubah cara bertani yang sangat tradisional menjadi pertanian yang modern, yang bisa menciptakan para jutawan baru, pengusaha-pengusaha agrobisnis yang jempolan. Kuncinya cuma 1 yaitu irigasi yang bagus.

Tapi kalau bupati yang akan datang cuma masih sebagai kasir, senang duduk di kursi empuk, dengan fasilitas kelas VVIP, yang lupa kalo kursi tersebut dibeli dengan uang petani miskin, maka pertanian di daerah kita akan lenyap dari daerah kita, sawah bisa berubah jadi hutan mensiang atau kebun kelapa sawit. Anak-anak mudanya akan pergi merantau dan jadi buru pabrik atau buruh kelapa sawit di Malaysia, yang sampai saat ini negara kecil ini masih belum menganggap orang Indonesia sebagai manusia seutuhnya dengan panggilan mereka terhadap kita sebagai orang “Indon” bukan Orang Indonesia.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *